Tag Archives: jalan-jalan

Serunya Menyaksikan Cap Go Meh Street Fest Bogor 2014

Hari ini sejak siang hari hingga sore  tadi, ribuan warga kota Bogor tumpah ruah di sisi Jalan Suryakencana untuk menyaksikan acara tahunan  Cap Go Meh 2014. Ajang itu dinamai Pesta Rakyat Cap Go Meh Street Fest 2014 (2565) , karena acara ini bukan hanya melibatkan beberapa Vihara dari Bogor, Jakarta , Tangerang, Karawang, Sukabumi, namun  juga melibatkan beberapa sanggar  seni  serta komunitas lainnya yang sangat menarik.

Sejak pukul 15.00 sore saya sudah nangkring di tempat yang cukup strategis  untuk menikmati keramaian di situ, ini kali pertama saya melihat karnaval Cap Go Meh di Bogor, padahal sudah sejak tahun-tahun sebelumnya saya pengen sekali menyaksikan acara ini. Ternyata waaaah…beneran rame bener dan seru, apalagi cuaca hari ini sangat mendukung, tidak terlalu panas dan juga tidak hujan.

1392395767777340197
1392396997969221858
Sebelum acara di mulai resmi, paduan suara yang apik sekali dari sebuah sekolah ( saya tidak terlalu jelas melihat badge sekolagnya, seragamnya putih kotak-kotak),  pukul 16.00 WIB, acar dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa.

13923956401520166094
Saya sudah tidak bisa bergerak mendekat ke panggung, tapi cukup menikmati rombongan demi rombongan berbagai kelompok barongsai dan liong dari paguyuban beberapa vihara di Jawa Barat dan sekitarnya ini.

13923969331315533210

Selain itu yang tak kalah menarik, Pangeran Diponegoro beserta kudanya juga ikut karnaval, pasukan kopasus juga ikut serta membawa liong dan barongsai,  drumband, komunitas sepeda onthel, mojang Bogor yang gareulis, Sanggar Edas yang mengusung Wayang Hihid (kipas), Sanggar Melon dengan pakaiannya yang unik, kelompok Kampung Budaya Sindangbarang dan masih banyak lagi yang lainnya.

1392396255134289063139239635877022174
13923970511513884670

Akhirnya sekitar pukul 17.00 atraksi Liong dan Barongsai dimulai, dan perarakan gotong tepekong mulai berjalan perlahan-lahan, dan saya semakin tenggelam oleh kerumunan warga.

Karena perjalanan pulang masih jauh, saya putuskan cukup sekian saja nontonnya acara Cap Go Meh kali ini. Saya sudah cukup terhibur meskipun tak sempat memasukkan angpau ke dalam mulut barongsai yang sedang beratraksi.

Merasakan Aroma Mistis di Danau Rawa Pening.

Dalam perjalanan dari Semarang menuju Jogja ( via Ambarawa ) Desember 2013 lalu, saya yang minta suami saya untuk singgah di rawa pening. Penyebabnya sih karena lihat foto-foto teman-teman kampret ( Kompasianer Hobi Jepret) waktu di rawa pening itu, koq apik-apik dan bikin sirik, ada yang foto di perahu, di tengah danau juga dibukit cinta.

Jadi, agak melongo juga saya waktu tiba di lokasi danau rawa pening. Dari kejauhan terlihat danaunya luaaaas, kata wikipedia luasnya sekitar 2.670 hektar. Sayangnya banyak tanaman eceng gondok di sana, tapi mungkin memang sengaja di tanaman eceng gondok di kembang biakkan di sana untuk dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan dari eceng gondok.
ImageImageSemakin mendekat area danau rawa pening, lagi-lagi sedikit kecewa juga melihat beberapa fasilitas yang agak terbengkalai. Dimaklumi saja karena danau tempat pariwisata ini dikelola oleh dinas pariwisata pemda setempat dan dengan harga tiket yang cukup murah Rp.6000/orang. Penjualan tiket ada sebuah  yang bentuknya sangat unik yaitu menyerupai mulut naga raksasa yang menganga.

Memasuki kawasan danau rawa pening, di dermaga kayu yang menjorok ke danau, entah mengapa saya langsung merinding. Saya mikir, teman-teman kampret ini nyalinya gede-gede juga ya, berani naik perahu di danau rawa pening, tanpa pelampung. Maka dengan halus saya langsung menolak tawaran mas-mas tukang perahu yang menawarkan jasanya mengantar kami keliling danau, anak-anak cuma main di dermaga pinggir danau saja.

Berbalik ke arah pulang, di dermaga saya temukan tulisan berisi nama-nama para korban yang meninggal tenggelam di rawa pening. Semakin merinding..dan bergegas mengajak suami dan anak-anak meninggalkan area danau.

Image

Tapi jangan kawatir, rasa merinding akan terobati dengan sejenak beristirahat menikmati indahnya pemandangan danau rawa pening sambil minum di warung-warung di bukit cinta.  Sayang sekali bukit cinta yang konon adalah tempat bekas buangan lidi baru klinthing ( * baca ya legenda terjadinya rawa pening ) kondisinya juga memprihatinkan. Arena bermain untuk anak-ananya sudah berkarat dan tak menarik, ada rangka rumah / pendopo yang terbengkalai tak terselesaikan.

Image

 ImageImageSaya kembali merinding ketika singgah sejenak sebuah bangunan yang berisi petilasan Ki Godo Pamelingg yang berbentuk lingga dan yoni, aroma dupa menyeruak dari sana.
Image

Saya bisik-bisik ke si babeh untuk segera keluar dari area sini karena merasakan  hawa tak enak. Si babeh yang tak mengalaminya santai saja, dan cuma bilang “turunan jawa barat mah pasti merinding kalau ke sini, sejarahnya kan dulu begitu, jadi dikira ada musuh datang nih..”
halah !! sotoy kau beh… !!

btw saya suka foto yg ini, jadi saya insert 1 foto lagi di sini ya

1

Candi Banyunibo, Candi Cantik di Tengah Sawah

Sepulang dari Uji Nyali di Makam Raja-Raja Mataram, saya dan para sepupu masih meneruskan nongkrong di tempat makan menghabiskan waktu malam. Jadi sudah bisa diterka, rencana mau bangun jam 4 pagi dan langsung ke Magelang melihat matahari  terbit di Punthuk Setumbu gagal sudah.

Setengah hari ini kita masih sempat  tour de Candi yang deket-deket aja, karena saya dan sepupu harus kembali ke Jakarta jam 3 sore,sementara oleh-oleh belum di beli.

Candi yang kita tuju adalah Candi BanyuNibo, Candi Ijo dan Candi Barong. Dipta, sepupu saya yang sering jadi tour guide ke tempat wisata-wisata di Jogja, sejak jauh-jauh hari sudah promosikan candi-candi ini ke saya lewat foto-foto keren di blognya. Jadi saya juga ngiri dong pengen foto-foto di candi-candi itu.

Perjalanan ke Candi Banyunibo tidak terlalu lama cuma saja jalannya makin lama makin sempit, lewat-lewat area persawahan, dan pemandangannya juga cukup memikat.

Pemandangan Menuju Candi Banyunibo

Pemandangan Menuju Candi Banyunibo

Candi ini letaknya juga tak jauh dari Candi Ratu Boko, di Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan.  Berhubung sebagian sepupu saya  sudah pernah ke Ratu Boko, jadi Candi Ratu Boko  kita lewati saja.. ( *padahal saya belum pernah ke Ratu Boko..hiks..)

Setelah perjalanan kurang lebih 45 menit, sampailah kita di Candi Banyunibo..candinya cantik sekali dan  berada di tengah sawah dan kebun.

Candi Banyunibo

Candi Banyunibo

Untuk masuk ke sana, Dipta sepupu saya yang ngurus katanya bayar cuma Rp.2000 atau berapalah per orang. Saya langsung foto-foto saja.

Dilihat dari bentuk stupanya, Candi Banyunibo adalah candi budha. Karena hari itu sepi dan tidak ada guide yang menjelaskan sejarah Candi ini, maka sambil mengelilingi Candi, saya mendengarkan cerita Dipta saja, sambil browsing tentang candi banyunibo di sini dan  di sini .

Penasaran dengan Banyunibo ( Air yang menetas) saya mencoba mencari di mana kira-kira air menetas itu ? apakah di tengah-tengah ini yang agak ceruk kedalam air banyunibo ini menetes ?

Ceruk di Bagian tengah dalam Candi

Ceruk di Bagian tengah dalam Candi

Saya naik ke atas candi dan berkeliling di atasnya, banyak relief-relief  menarik yang sayangnya saya gak banyak tahu cuma menerka-nerka berdasarkan bacaan di atas, ada relief perempuan dan laki-laki yang menggambarkan dewi kesuburan, yaitu Haritti dan suaminya Vaisaravana, terus ada relief siapa lagi entahlah…

IMG_6410-001 IMG_6411-001 IMG_6415-001 IMG_6416-002

Belum puas rasanya berkeliling Candi Banyunibo, belum puas foto-foto dari berbagai sudut maksudnya…

Dibalik Jendela Candi

Dibalik Jendela Candi

IMG_6417-002

Dan juga karena saya belum sempat turun dan melihat reruntuhan candi-candi dibawahnya.

IMG_6412-001

Yupp..  karena waktu yang mepet, kita harus lanjut ke Candi Ijo…