Ketika Orang Terdekat Terpapar Covid 19

Lewat cerita ini, saya mau ajak kalian semua teman2 wepe dan yang baca, tetap waspada dan saling jaga karena COVID-19 itu nyata. Bagi sebagian orang mungkin baru bisa ngerasa nyata kalau teman dekat atau keluarga kalian terpapar covid19.

Keluarga saya termasuk yang parno dengan covid ini, jadi kita bener-bener jaga kondisi dan kesehatan, mematuhi protokol2 kesehatan, menghindari kerumunan dan gak pergi ke mana-mana kecuali sangat mendesak.

Awal juli WFH sudah dibubarkan, saya kembali ke kantor, dan sejak itu pula ke kantor dengan perasaan gak nyaman, terpaksa, ketakutan, gak pernah berani naik kendaraan umum. Bahkan ketika berita cluster kantor bermunculan, kekawatiran ini makin menjadi, meskipun terus berdoa semoga jangan ada kasus covid di kantor saya.

2.5 bulan setelah masuk kerja kembali, akhirnya kasus pertama covid 19 di kantor saya muncul, semakin mengerikan ketika yg pertama kali positif covid19 adalah teman seruangan, satu kubikel dengan saya dan jarak duduk kami hanya 2 meteran. awalnya 1 orang, kemudian sebelahnya yang diduga tipes, ternyata hasil swabnya juga positif.

Kantor kami akhirnya diliburkan untuk dibersihkan , mengikuti protokol Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di perkantoran , kami semua di rapid test, dan sayapun WFH Kembali karena kebetulan akhir bulan juga, proses closing bulanan dilakukan di kantor cabang terdekat.

Baru 2 hari WFH , dan lega karena hasil rapid test non reaktif, tiba-tiba keponakan saya nelpon, mamahnya (kakak saya) positif covid juga. dan hari ini langsung dibawa ke RS untuk perawatan.

Saya kembali was-was, dapat kabar tgl 1 Sept, terakhir saya, suami dan anak saya bertemu kakak saya tgl 23 Agustus ( 9 hari lalu ). saya minta suami dan anak saya juga melakukan rapid test.

Teringat kembali kejadian tanggal 23 agustus itu, ketika saya dan kakak saya bertemu di suatu tempat di daerah pamulang. Ponakan saya yang ultah ngajak ketemuan di resto itu. Btw ini pertemuan pertama saya dengan keponakan2 sejak pandemi, bahkan lebaranpun kami gak ketemuann. Karena saya berpikir kondisi sudah New Normal, maka saya agak sedikit longgar mau ketemuan di resto/tempat makan dengan syarat bukan di dalam ruangan/mall. harus di area outdor. Dan ponakan saya setuju, dia memilih tempat yg outdor. Tapi saya salah duga, ketika saya ketika saya tiba di lokasi janjian, saya langsung ciut, penuh bener ini tempatnya, saya gak berani turun dari mobil dan sempat protes ke ponakan

Karena gak enak saya turun juga, saya bilang kita sebentar aja di sana, langsung balik. Saya sempat marahin ponakan saya yang gak pakai masker, eeh ternyata mamahnya, adiknya, sepupunya..semua gak pakai masker, cuma kakak saya yg pakai masker, dan itupun pakainya gak bener, lubang hidungnya gak tertutup.

Jarak antar meja hanya kurang lebih 1 meter, dan yang disebut ruangan oleh ponakan saya itu ternyata hanya gubuk2/saung yang bersebelahan, dan tentu saja jaraknya juga berdekatan. Semua meja yang di luar juga saung-saung penuh terisi. Pelayan-pelayannya memang memakai masker, tapi tak semua memakai masker dengan benar. Kaabrnya tempat ini memang lagi nge-hits di Tangsel, tapi menurut saya B aja sih

Saya bener-bener kawatir dan gak pengen berlama-lama di sana. Sekitar setengah jam saya dan keluarga pulang.

Di jalan keponakan saya ( yg gak ikut di acara ini wa saya, dia sangat kawatir kondisi mamanya , karena kakak saya ini belum lama sembuh dari cancer Servik dan butuh perawatan yg lama, juga diabetes. Kakak saya karena banyak tugas dia di kantor yang memerlukan dinas luar, sudah ngantor lagi terlihat sering jalan ke luar, kumpul-kumpul dan bahkan wisata. Beberapa kali sudah pernah saya ingatkan. Tapi selalu ada alasannya.

Saya kirimkan ss wa ponakan saya ke mamahnya,

Dan kekawatiran ponakan saya terbukti, sepulang dari acara itu, kakak saya batuk-batuk, demam dan gak enak makan apa2, mulutnya hilang rasa.

Untuk tracing tempat atau sumber dapatnya virus agak susah menduga, karena bisa jadi kakak saya terpapar covid bukan di situ, tapi di tempat lain yang dia kunjungi, atau dari orang lain yg berinteraksi dengan dia.

Dan sampai hari ini, sudah 10 hari kakak saya di RS, sudah dilakukan swab ke 2x nya dan masih positif, mohon doanya dari teman2 dan pembaca budiman untuk kesembuhan kakak saya, juga anak-anak kakak saya di rumah yg sudah diswab juga semoga hasilnya negatif semua , aamiin.

2 responses to “Ketika Orang Terdekat Terpapar Covid 19

  1. Pingback: In Memoriam Pak Christian – Kasus 1 Covid di Kantor | Jejak Langkah

  2. Pingback: Agar Cepat Sembuh dari Covid-19 | Jejak Langkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s