[Nyadran] – Di Lempuyangan Ada Makam Urang Sunda

Di postingan saya sebelumnya, Mbak Tintin sempat menanyakan ada kepentingan apa saya ke Jogja gak bawa anak-anak dan suami. .. Ini dia ceritanya..

Jadi ini sebetulnya saya ke Jogja itu mewakili Bapa Seno yang gak bisa ikutan acara nyadran yang rutin diikuti oleh ibunya ( Eyang Putrinya Seno ). Sejak mertua saya meninggal hampir 4 tahun lalu, tidak pernah ada wakil keluarga yang ikutan nyadran, dan kebetulan beberapa waktu lalu tante-tantenya sempet sedikit protes, mbok yaooo ada wakilnya gitu yg datang nyadran.

Awalnya saya pikir nyadran itu ya ziarah biasa ajalah seperti yang rutin saya lakukan juga menjelang ramadhan, ke makam ortu saya dan kakek nenek saya. Tapi kemudian setelah   saya baca-baca di goole koq ya menarik juga tradisi nyadran itu,ada upacara dan ritualnya gitulah. Jadi saya agak tertarik pengen ikut karena pengen tahu dan foto-foto-an di acara itu..  Apalagi Bapa Seno juga nambah bikin saya penasaran,katanya nanti berangkatnya rombongan sekampung kemetiran itu, ke beberapa makam leluhurnya, mulai dari turunan terdekat sampai turunan terjauh dan berakhir di Kota Gede.

Nanti…kata si babeh lagi, di tiap makam leluhur itu berdoa, tahlil, tabur bunga sambil diceritakan sejarahnya.. Naaah ini dia yang bikin saya tertarik ikutan.. pengen tahun sejarah keturunan keluarga si babeh, biarin deh anak saya mah udah gak akan dapat warisan tujuh turunan,  ( *ternyata si Seno mah turunan ke 8, warisan tujuh turunannya sudah berhenti di si babeh…hehehe* )

@@@@@

Jam 8 pagi, rombongan sudah satu bis sudah siap di depan jalan kemetiran lor,di belakangnya rombongan keluarga Bapa Seno (*saya,  tante2, Om, sepupu dari jakarta, Bogor dan Bandung*).. lhooo koq misah gak naek bis yang sama..gimana ini.. hehehe, bisnya  gak pake AC saya milih naik mobil yang sejuk ajalah, gila Jogja panas bener… pliket

Route pertama ke Pemakaman Lempuyangan..

Pintu Gerbangnya bagus buat foto-foto

Pintu Gerbangnya bagus buat foto-foto

Ah saya gak konsen (*tepatnya lupa*)  ini makam siapa , itu makam siapa aja, yang pasti makam Bapak Ibunya Eyang Mardi Wardoyo deh, alias Eyangnya si babeh ada di sini.

Salam kenal Eyang...dari buyut menantu

Salam kenal Eyang…dari buyut menantu

Juga makam Eyang Buyutnya si babeh  Eyang Bhawusastro ada di sini, yang 4 makam dalam pagar ini. Lihat deh para keturunanan Eyang sedang khusuk berdoa, apalagi yang pakai baju surjan itu, sangat khusuk berdoa,

 Keturunan Asli, yang palsu foto-in aja

Keturunan Asli, yang palsu foto-in aja

saya lupa ngerekam si ibu kuncen saat bercerita tentang pemakaman ini, juga tentang makam siapa saja di sini, mengapa letaknya lebih tinggi dan sebagainya.  Si ibu mewakili si bapak kuncen, karena bapak kuncen sedang tidak di tempat.

Tanda Pengenal Kuncen di Poskonya

Tanda Pengenal Kuncen di Poskonya

Ada yang menarik di pemakaman ini, ketika saya membaca nama di sebuah nisan .bin GEUSAN ULUN.. saya hapal sekali nama ini, Ini kan nama jalan di Sumedang menuju rumah nenek angkat ibu saya. Koq bisa ada di sana makam anaknya ?

Langsung buka google cari tahu siapa Pangeran Rangga Gempol… jadi beginilah sejarahnya .

“Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar Rangga Gempol I (1601 – 1625 M). Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap ; 1. Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, 2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan 3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601 – 1625 M). Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten pada tahun 1620 sampai sekarang”

(sumber : dari sini )

Dan kenapa makamnya ada di wilayah  Jogjakarta  ? ada beberap versi soal kenapa P. Rangga Gempol wafat dan di makamkan di Jogjakarta . Menurut cerita, tahun 1624 Rangga Gempol diperintahkan Sultan Agung untuk Menaklukkan Madura, setelah Madura di taklukkan Mataram, Rangga Gempol wafat pada tahun yang sama dan di makamkan di Lempuyangan ini.  Cerita lebih detil silahkan baca di sini 

Sesama urang Sunda, dan asa deket gituh, jadi we sayah doa khusuk juga di sisi makam.. (* tetep sambil narsis ya..*)

Sampurasun...

Sampurasun…

Selain ada makam urang Sunda, saya juga tertarik ketika mendengar ibu kuncen bilang makam yang didalam rumah ini adalah makam Putri Pembayun.. satu persatu kami masuk ke dalam rumah ini, karena sempit.

Makam Putri Pembayun

Makam Putri Pembayun (*yg ternyata bukan ini makam istrinya Mangir)

Langsung saya ingat Ki Ageng Mangir dari buku Pramoedya Ananta Toer yang saya pernah baca. Jadi ini makam istrinya Ki Ageng Mangir ?  Masa sih… Lalu di mana makam Ki Ageng Mangirnya ?

Sayang sekali si ibu kuncen bercerita dalam bahasa Jawa dan saya kurang paham..Saya masih penasaran di mana makam Ki Ageng Mangir….

 

eh btw sampai next trip, ini beneran cuma tour de makam ternyata, gak ada ritual-ritualan

Advertisements

10 responses to “[Nyadran] – Di Lempuyangan Ada Makam Urang Sunda

  1. senang dah jadinya kesana, tahu sejarah.. apalagi jaman informasi gini, pasti “terbuka” siapa istri ki ageng mangir itu, apa itu ya kuburannya, unik di dalam jati..
    leluhur babeh ternyata masih turunan rajaraja dalam dulu ya.. seno punya gelar dong harusnya..

    • Nah itu yg saya suka Mbak… akhirnya 1 hari kemudian baru ketahuan bukan itu makam istrinya Ki Ageng Mangir..

      Katanya sih gitu, keturunan ke 7 , Seno udah ke 8 udah gak pake ah gelar2 gituan hihi

  2. Mba, aku suka deh pintu ijo itu. Cantik

  3. waaah ga nyangka ternyata masih ningrat….

  4. Seru juga ya, ada sejarah nenek moyangnya Seno.
    Kalo aku taunya cuma nenek moyangku orang pelaut…. hahah…

  5. wah…dulu rasa2nya saya memang pernah baca kisahnya tapi lupa2 ingat, tentang pembesar sumedang yang dimakamkan di luar sumedang, tapi tak ingat juga siapa beliau dan dimakamkan dimana…dan dengan cerita mbak ini semakin mempertegas ternyata beliau adalah Pangeran Rangga Gempol 1 ya, dimakamkan di Lempuyangan…terima kasih mbak. wah nanti kapan2 tulisan mbak ini bisa saya jadikan rujukan juga nih mbak kalau mau menulis tentang Pangeran Rangga Gempol 1 ini, karena ada fotonya juga sebagai bukti kongkrit hehe…boleh tidak mbak ???
    oh ya salam kenal dari wewengkon sumedang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s