Bukti Sejarah Yang Nyaris Hancur

Apa siii.. lebay bener judulnya… tapi bener lho yang mau di ceritain kali ini soal sejarah, ya bangungan bersejarah, tempat di mana suami saya alias si babeh di lahirkan, yang dikenal dengan Bumina Tuan Ase ( judul ini pernah saya posting di album MP yg sayangnya sudah saya delete..hiks..).

Bangunan tua jaman Belanda milik seorang pekerja perkebunan, orang Belanda namanya, sering di sebut tuan Ase ( mungkin maksudnya AC bla bla bla namanya..yang pasti bukan ACe Hardware ).  Kemudian beralih kepemilikan menjadi milik keuskupan Bogor dan kepada para pengajar Yayasan Mardi Yuana Sukabumi yang berasal dari Jawa Tengah diberikan hak untuk tinggal di rumah itu,bayar PBB, Listrik dan semua ditanggung penghuni, jadi cuma Hak Guna Pakai saja bukan hak memiliki.

Itu sebabnya seminggu setelah eyangnya Seno meninggal, si babeh dan adik2nya langsung mengembalikan kunci dan surat2 yang berhubungan dengan rumah itu langsung ke pasturan Sukabumi.

Itu sebabnya, sejak rumah itu dikembalikan, pulang ke Sukabumi bagi si babeh amat berat, selain berat menempuh macetnya perjalanan Bogor-Sukabumi yang amit2 ( kapan siih gak macetnya), juga berat karena pulang setelah eyang gak ada, rasanya hambar, pulang bukan lagi ke rumah eyang, bukan lagi ke rumah dimana 50 tahun lalu si babeh lahir di sini ( yeee… ketahuan yeee sibabeh tua juga ya umurnya udah mau 50 tahun aja dia.. ). Jadi, setiap kali ke Sukabumi dan menginap di rumah adiknya si babeh, ketika melewati ex rumah itu.. anak2 saya biasanya cuma teriak dari jauh “dadah eyang…. dadah eyang..gak mampir ya”.

Liburan Natal kemarin, ketika kami sekeluarga ke Sukabumi, agak kaget juga dapat berita dari adik si babeh, bahwa ex rumah eyang sudah jauuuh berubah, begitu pula beberapa rumah di sekitarnya. Pemandangan sawah di belakang kamar si babeh dulu juga sudah tidak ada, sudah berganti dengan bangunan ruko-ruko memanjang, halaman belakang sudah ada tembok tinggi milik calon hotel yang akan segera berdiri dengan megah di sana. Dan yang lebih kaget lagi, halaman rumah eyang yang dulu tanpa pagar di sekelilingnya, sekarang sudah dikelilingi tembok tinggi dan pagar terkunci..

Iseng2 saya dan si babeh berdua penasaran pengen lihat dari dekat rumah itu, eh ternyata pintu pagar bisa dibuka, masuklah kita ke sana, rumah tua itu semakin bertambah renta, nyaris hancur… saya lihat si babeh tak bisa menyembunyikan kesedihannya  menatap nanar bangunan tua penuh kenangan.. memandang ke sekeliling halaman, menghitung dan mencari kemana pohon kelapa di sudut2 yg dulu ditanam eyang kakung sebagai patok, kemana pohon alpukat di belakang, pohon pala juga hilang dua, pohon jambu biji tinggal satu.. ah semua sudah berubah..saya juga ikut sedih jadinya…

Mumpung belum hancur dan belum dihancurkan sama sekali seperti ex rumah Ibu Irma yang sudah jadi kebun singkong, saya abadikan rumah kenangan ini dalam beberapa gambar di sini..

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s