Ketika Kangen Ibu

Ini kejadian dua minggu-an lalu sebetelnya. Entah kenapa malam sabtu itu saya tiba-tiba kangeeen sekali sama almarhum ibu. Jadi ketika kemudian bangun tidur kuterus mandi lalu keramas dan mengeringkan rambut, saya makin  terkenang ibu dan pengen sekali ke makam ibu.

Saya jarang sekali mengungkapkan isi hati lagi kangen siapa..  lagi pengen apa gitu ke suami.  Namun pagi itu sambil nyeruput kopiko brown coffee ( *sponsor*) bersama suami, saya bilang ” Aku kangen ibu Pa.. ”  ( pasang  muka melas).

Gak terduga, si babe yang seminggu-an kemarin kurang sehat kondisinya, langsung bilang ” ya udah kita ke makam ibu nanti, anak2 gak usah ikut, kan pd sekolah

Hah ?? gak salah ? tumben sekali si babeh kali ini langsung merespon keinginan saya, dan tumben lagi si babeh gak susah diajak ke Tigaraksa. Iya.. selama ini memang si babeh agak-agak susah diajak ke Tigaraksa tempat dimana sebelumnya ibu saya tinggal, alesan jauh atau sibuk dan berbagai alasan lainnya, bisa dihitung pakai jari deh berapa kali dalam setahun si babeh mengunjungi mertuanya.

Jadi, kali ini ajakannya tidak saya sia-siakan, Perjalanan jauh berduapun saya nikmatin.
Dan hujan deras setibanya di pemakamanpun tak dihiraukan. Dengan  payung pinjaman saudara sepupu yang rumahnya tak jauh dari makam ibu, saya dan si babeh menuju ke makam ibu.

Agak kaget juga melihat kompleks ( halah.. kebon eta teh)  pemakaman keluarga yang sudah menyemak. Beberapa makam seperti makam kakak2 ibu, makam nenek kakek saya sudah tak nampak lagi karena rumput yang meninggi, miris juga melihatnya.

Image

Cuma kelihatan makam ibu

ini saudara-saudara yang rumahnya cuma beberapa langkah dari makam koq ya gak kepikirian untuk bersihin makamnya ya. Dan.. Subhanallah.. saya melihat makam ibu cukup terang dan tak berumput dibanding makan lainnya. Hanya saja karena musim hujan, tanah makam sudah agak rata.. nisan dari kayu sudah melapuk.. aah..tak terasa menitik air mata ini ditengah doa-doa yang saya panjatkan. Ibu sudah hampir 1 tahun meninggalkan kami semua, pantas saja nisan kayu sudah mulai menghitam..

Si babeh yang melihat kondisi makam begini bertanya, “kenapa ini gak pakai nisan batu, mesti nunggu 1000 hari dulu ya seperti makam Eyang ?

Saya gak bisa  jawab, sepertinya di keluarga kami tidak ada makam yang pakai nisan batu seperti makam-makam pada umumnya. Maunya saya juga makam ibu diberi nisan, tapi nanti dulu lah, saya mesti tanya dulu ke kakak2 saya lainnya, bagaimana sebaiknya.

Tapi melihat kondisi tanah makam yang merata begitu, si babeh mengambil inisiatif mengelilingi makam ibu pakai kayu-kayu yang kebetulan ada di situ.. darurat, sementara pakai kayu dulu, nanti baru pakai batu marmer 🙂

Image

Sibuk beresin makam

Kayunya bertumpuk

Saya biarkan si babeh sibuk bolak-balik, saya cuma memayungi dan foto-in si babeh aja, saya kirim salah satu foto di bawah ini ke kakak saya..  komentar Ceu Ami dan Ceu Oma sama aja… “kenapa gak sekalian di bataaa…” .. Yeee.. meneketehe kalo udah boleh dibata hahaha..

Tak perlu menunggu satu tahun wafatnya ibu, ternyata gara-gara melihat foto makam ibu yang berkayu itu, beberapa hari kemudian Ceu Ami langsung merenovasi makam ibu..
Thanks to Ceu Ami..  (*foto makam baru belum ada*)

Advertisements

4 responses to “Ketika Kangen Ibu

  1. wah langsung kesana diajak babeh, babeh baik yaaaa.. sekalian malah dipugar makamnya.. napa makam lain ga dipugar aja juga?

    • Gak dipugar langsung.. sementara aja itu mah..
      Makam yg lain hehehe.. belum.. pengennya sih sekalian aja di benteng gitu area pemakaman, supaya gak ada kambing masuk juga 🙂

  2. Wah, menantu yang baik….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s