Demi Pembangunan, Hilang Daerah Resapan Air

Di dekat rumah saya ada 3 tanah lapang yang cukup luas yang dulunya kebun singkong, mangga, rambutan dan sebagainya. yang pertama adalah persis di depan rumah saya, tanah milik seorang purnawirawan AD tetangga. Waktu pertama beli rumah ini, saya sudah membayangkan sejuknya semilir angin dari pohon-pohon nangka di depan rumah.

Sayangnya saya hanya bisa menikmati semilir angin itu kurang lebih satu tahun lebih, karena kebun itu kemudian berubah menjadi kolam lele, di pagar rapat dan hilanglah tempat Seno main di kebun.

Tak jauh dari rumah saya, tepat di samping sekolah Seno ada lapangan luas ditumbuhi ilalang dan petai cina,seringkali Della & Seno lebih suka motong jalan lewat itu dari pada lewat jalan biasa, selain lebih cepat (sedikit) juga karena seneng metik-metik tanaman di situ.

Empat rumah dari lapangan sebelah Seno, tepat di belokan jalan, ada lagi tanah luas dengan berbagai pohon tumbuh di sana, salah satunya pohon sukun, mangga, pohon waru, talas, singkong, dan sebagainya. Karena sejuknya tempat itu, tukang ojekpun mangkal di sana,kemudian warung kopi dan tukang es kelapa muda juga buka lapak.

Sayangnya, kedua tempat yang menjadi daerah resapan air ini sekarang sudah nyaris hilang, kedua tempat ini sudah mulai di urug tanah. Lokasi pertama yang dekat sekolah Seno katanya akan di bangun supermarket yang sudah merambah kampung-kampung dan mencekik warung rakyat itu. Sedangkan lokasi ex tempat tukang ojek mangkal akan di bangun perumahan model cluster.

Inilah dilemanya daerah pinggiran, yang makin lama semakin kehilangan area resapan air demi pembangunan perumahan. Ciledug, ciputat, bintaro dan seputarnya yang dulu masih berupa kebun-kebun sudah di penuhi perumahan.

Ketika pertama kali melihat pohon-pohon di robohkan bolduzer, saya langsung ingat kejadian hujan angin yang melanda kawasan rumah saya beberapa waktu lalu.

Kawasan di sebelah kanan kali kecil ini yang paling sering jadi korban banjir luapan anak kali pesanggrahan. Jangankan musim banjir besar, hujan lebat sedikit saja, air sudah menggenangi kawasan dekat kompleks Tangkas Permai. Untunglah rumah saya yang berjarak tidak sampai 200 meter dari kali kecil itu tak pernah di singgahi air sampai ke dalam rumah, cukup sampai depan garasi saja.
Tapi dengan adanya pembangunan perumahan itu, saya jadi kawatir, air akan mencari tempat yang lebih rendah ke arah rumah saya, sedangkan perumahan itu di bangun lebih tinggi dari permukaan kali.

Saya belum tahu apakah sudah ada protes ke pengembang atas nama warga supaya pengembang juga berkewajiban membuat tanggul yang lebih tinggi lagi untuk menahan limpahan air supaya tidak membanjiri daerah yang biasanya tidak kena banjir.

Saya titip kekawatiran ini ke si babe pd saat si babe akan rapat perdana RT kemarin itu, dan rupanya Pak RT juga sudah memahami keberatan warga dan punya kekawatiran yang sama dengan saya. Beliau yang akan menyampaikan keberatan itu kepada pihak pengembang. Semoga saja ada niat baik pengembang yang tetap memikirkan lingkungan sekitar, bukan memikirkan keuntungan penjualan rumah semata.

Foto-foto pembangunan perumahan

Advertisements

12 responses to “Demi Pembangunan, Hilang Daerah Resapan Air

  1. Itu kerjanya mereka yg punya uang banyak, Rakus dgn lahan kosong untuk mendirikan perusahan yg fungsinya hanya untuk sementara waktu. Mirip dgn perusahan pertambangan emas dan mangan, kalau sudah habis diambil isinya, dibiarkan begitu saja.

  2. huhuhu, kangeeen lahan kosong n pohon2 ya tehdaerahku juga lama2 makin abis nih lahan kosongnyakangen liat sejuknya pohon2, huhuhuhu

  3. emang kalo ngeliat kyk gini miris ๐Ÿ˜ฆ ga dikontrol pembangunannya

  4. rudal2008 said: Itu kerjanya mereka yg punya uang banyak, Rakus dgn lahan kosong untuk mendirikan perusahan yg fungsinya hanya untuk sementara waktu. Mirip dgn perusahan pertambangan emas dan mangan, kalau sudah habis diambil isinya, dibiarkan begitu saja.

    iya pdhal itu tanah lama gak laku2 krn pinggir kali yg sering banjir, rupanya yg banyak duit lihat peluang,smoga saja bukan cuma mengeruk keuntungan. Iya Bang Rudi, mirip2 perusahaan tambak, mengeruk perut bumi dan meninggalkannya jika sudah tsk berisi keuntungan lagi

  5. bunda2f said: huhuhu, kangeeen lahan kosong n pohon2 ya tehdaerahku juga lama2 makin abis nih lahan kosongnyakangen liat sejuknya pohon2, huhuhuhu

    Iya May, kangen pasti.. kakakku dulu sekolah di PGA Ciputat, pernah ke daerah pd betung jalan kaki, katanya masih hutan, 20 thn kemudian hutannya sudah benar2 hilang ๐Ÿ˜ฆ

  6. riffat said: emang kalo ngeliat kyk gini miris ๐Ÿ˜ฆ ga dikontrol pembangunannya

    apalagi kalau pengembangnya sekelas kampung gini, beda kalau pengembangnya sekelas ciputra group ๐Ÿ™‚

  7. jangankan di jakarta budisini cari pohon besar buat cari wangsit saja mulai susah

  8. rawins said: jangankan di jakarta budisini cari pohon besar buat cari wangsit saja mulai susah

    wah masih mending di Jakarta dong gampang cari pangsit ๐Ÿ™‚

  9. itulah kl pemerintah gak punya peraturan yg jelas tentang tata kotagak antisipasi dari awalakh..capee dedang ga nafsu marah2 ni

  10. siantiek said: hiks ๐Ÿ˜ฅ

    beli rumah di sini nan.. biar tetanggaan ๐Ÿ™‚

  11. rosshy77 said: itulah kl pemerintah gak punya peraturan yg jelas tentang tata kotagak antisipasi dari awalakh..capee dedang ga nafsu marah2 ni

    Gak ngerti nih sama tatakotanya Tangsil gimana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s