Sudah perlukah impor gula

Rasanya gue dah lama banget gak baca info via internet, banyak info maupun gossip yang hilang, untungnya kemaren masih sempet baca kompas cetak di rumah, masih sempet baca nova ( gak pake .com juga) jadi lumayanlah sedikitnya info masih bisa didapat. Di headline kompas halaman Bisnis dan Investasi katanya pemerintah akan mengimpor gula karena stok gula kita hanya cukup untuk 4 bulan kedepan, sementara kebutuhan gula per kapitanya sekitar 12.000 kg.. ( bener gak sih ? ). Sejak jaman mahasiswa dan sejak kenal pak Imam bokapnya temen gue yang pemerhati petani tebu sejak itu pula gue putuskan gak akan pernah beli gula impor, sampe sekarang, jadi kalo ke supermarket gue cari gula local gak ada, gue batal beli, tunggu sampe gula local ada dan tanya2 ke petugasnya kenapa sampe stok gula local gak ada. Jadi, saya mohon info buat teman2 yang akses internetnya lumayan nyaman apa bener stok gula lokal kita sudah menipis ? dan sudah perlukan kita impor gula ? apa bener banjir di beberapa daerah di jawa penyebab kita perlu impor gula ?

Advertisements

9 responses to “Sudah perlukah impor gula

  1. Gak Perlu teh..! Keluargaku ajja pada punya penyakit Diabets gara2 Gula tuh…!! hihi..

  2. hmmmm untung serumah pd ga d4men manis… ga bingung deh klo gula ntar susyahh..;-)

  3. Jeng Icho, kalau stok gula lokal menipis bisa jadi. Setahu sy pabrik gula kapasitas produksinya cenderung menurun. Seperti pabrik gula di Yogyakarta, melihatnya saja aku “melas” padahal mereka tetep berproduksi dengan harga jual gulanya juga tidak mahal. Orang-orang sekarang lebih suka gula yang putih, sedangkan gula lokal cenderung gula yang agak kecoklatan. Biasanya lokal lebih manis, sedangkan gula impor cenderung lebih putih dan tidak manis (melalui proses pencucian lagi). Sy sama dengan mbak Icho, sebulan sy butuh gula 2 kg termasuk ketika bikin kue, atau sebagai pengganti MSG kalo masak aku kasih gula dikit. Jadi kalau ke supermarket manapun, sy selalu pilih gula lokal. Karena dalam pandangan sy siapa lagi yang akan mensejahterakan petani tebu kalau bukan kita sendiri yang sebangsa… (secara sy dan suami selalu meningkatkan nasionalisme kita masing2). Yang pasti sumber daya petani harus di optimalkan, jadi gak perlu import. Semakin lama semakin kita tergantung ama import padahal negara kita kaya raya.

  4. cepdedentoni said: Gak Perlu teh..! Keluargaku ajja pada punya penyakit Diabets gara2 Gula tuh…!! hihi..

    Lha.. diabets emang penyakit gula Kang.. tapi penyebabnya bukan karena kebanyakan makan gula kaleee

  5. Iya mbak, kaeknya kita gak perlu import gula, kasian tu petani gua yang di jateng dan di DIY. emang sih kalau gula import harganya cuma Rp. 6,000 an. tp ini kan rasa nasionalisme kita. salahnya sih komitmen pejabatnya aja gak jelas, niatnya mau menaikkan taraf hidup petani tetapi malah subsidi dicabut. ya sama aja bohong…. untuk pejabat dan anggota DPR studi bandingnya jangan kejauhan ke Eropa, ke Korea aja, dimana pemerintahnya peduli sama petani

  6. oetjipop said: hmmmm untung serumah pd ga d4men manis… ga bingung deh klo gula ntar susyahh..;-)

    orang rumah udah manis semua ya ci.. hihi

  7. sekarsekar said: Jeng Icho, kalau stok gula lokal menipis bisa jadi. Setahu sy pabrik gula kapasitas produksinya cenderung menurun. Seperti pabrik gula di Yogyakarta, melihatnya saja aku “melas” padahal mereka tetep berproduksi dengan harga jual gulanya juga tidak mahal. Orang-orang sekarang lebih suka gula yang putih, sedangkan gula lokal cenderung gula yang agak kecoklatan. Biasanya lokal lebih manis, sedangkan gula impor cenderung lebih putih dan tidak manis (melalui proses pencucian lagi). Sy sama dengan mbak Icho, sebulan sy butuh gula 2 kg termasuk ketika bikin kue, atau sebagai pengganti MSG kalo masak aku kasih gula dikit. Jadi kalau ke supermarket manapun, sy selalu pilih gula lokal. Karena dalam pandangan sy siapa lagi yang akan mensejahterakan petani tebu kalau bukan kita sendiri yang sebangsa… (secara sy dan suami selalu meningkatkan nasionalisme kita masing2). Yang pasti sumber daya petani harus di optimalkan, jadi gak perlu import. Semakin lama semakin kita tergantung ama import padahal negara kita kaya raya.

    yg di jogja madukismo ya mbak ?.. pernah masuk kompas juga peralatannya sudah berkaratSetuju Mbak.. kalo bukan kita siapa lagi yang bantu petani tebuayo kita rame2 kampanyekan gula lokal

  8. yoi.. PG Madukismo. Dan yang ngurus ya keluarga Sultan. Dan mereka bertahan demi penduduk sekitar Jogja yang membutuhkan gula. Meski kalau itung2an sih rugi. Dulu pernah tuh pas kuliah ketemu juga ama direkturnya.

  9. diarru said: Iya mbak, kaeknya kita gak perlu import gula, kasian tu petani gua yang di jateng dan di DIY. emang sih kalau gula import harganya cuma Rp. 6,000 an. tp ini kan rasa nasionalisme kita. salahnya sih komitmen pejabatnya aja gak jelas, niatnya mau menaikkan taraf hidup petani tetapi malah subsidi dicabut. ya sama aja bohong…. untuk pejabat dan anggota DPR studi bandingnya jangan kejauhan ke Eropa, ke Korea aja, dimana pemerintahnya peduli sama petani

    setuju mbak.. biarpun rada mahal dikit tetep beli gula lokalsiapa lagi kalo bukan kita yang bantu petanisusah ngerepin pejabat mah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s