Museum Fatahillah

Hari Minggu pagi, gue and Kel ( Bapa Seno, Seno dan Della ) berangkat ke Museum Fatahillah. Kita gak sempet sarapan karena berangkat pagi banget, jam 7. harus dah kumpul di sana bersama para Batmuser ( Komunitas Sahabat Musenum ). Sampe sana tetep aja ngaret hihi.. taip lumayan perut keganjel krn dapet roti buaya dan the manis dan kopi, Ini perjalannan pertama kali ke Musemum buat Della, jadi dia sangat antusias dan happy banget..pas terima roti buaya juga lucu.. kalo dulu Seno pertama kali makan roti buaya.. commentnya “ Haumm.. kumakan kau buaya.. aku tidak takut hup.. “ sambil ngunyak kepala buaya. Kali ini Della bilang.. “ roti buayanya tajem.. buntutnya tajem, Della mau cubit dulu kulit buayanya.. atau .. koq gak ada giginya roti buayanya: hihi.. kasian anak2 gue gak pernah liat roti buaya kalo gak jalan2 ama batmus.

Mula2 kita kumpul di depan gedung Musemum Fatahillah, trus di certain mengenai sejarah Museum Fatahillah oleh Pak Liliek. Menurut Pak Liliek Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1620 . Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, bergaya arsitektur kuno abad ke 17. terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Dulu, pada jaman VOC, gedung ini bernama Stadhuis atau Stadhuisplein yang digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai gedung Balaikota, pusat pemerintahan Belanda saat masih berkuasa di Indonesia hingga akhirnya pada tanggal 30 Maret 1974, oleh pemerintah Indonesia, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah

Trus.. kita jalan ke belakang, ternyata di belakangnya itu lumayan luas, ada prasasti , ada meriam si Jagur.. hihi.. itu lho meriam Porno banget , karena jempol tangannya nyelip diantara telunjuk dan jari tengah. ada patung Dewi Hermes yaitu salah satu dewa dalam mitologi Yunani, yang dianggap sebagai dewa keberuntungan, dewa pelindung bagi kaum pedagang, dan juga dewa pengirim berita. yang replikanya di simpan di jembatan persimpangan harmoni (krn dulu aslinya di simpan di situ dan sempat hilang ). Patung Dewa Hermes ini lucu kata Seno seperti peterpan hehe.. karena tubuh mungil dan pakai topi bersayap dan sandal bersayap. Padahal menurut cerita Dewa Hermes ini sangat cepat dalam berkata-kata dan juga berlari dan Ia juga merupakan dewa penolong bagi Odiseus ketika terjebak pada sebuah pulau.

Trus.. Gantian Pak x ( duh siapa ya namanya lupa, pengurus museum fatahillah ) gentian dengan Pak Liliek nyeritain tentang sumur tua, trus penjara bawah tanah di situ. Della dan Seno sempet masuk ke dalam penjara bawah tanahnya.. commentnya.. “ gelap.. banyak bola hitam berat” (. Padahal itu bola2 bekas rantai tawanan ). penjara bawah tanah ini dulunya digunakan untuk menjebloskan orang-orang yang melanggar aturan hukum pemerintah Hindia Belanda. Konon, pejuang-pejuang Indonesia seperti Pangeran Diponegoro, pernah menghuni penjara ini. Tanah lapang di depan bangunan Museum Sejarah Jakarta, dikenal dengan nama Taman Fatahillah, merupakan saksi bisu tempat dilaksanakannya eksekusi hukuman gantung bagi ribuan orang Cina yang terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda tahun 1740.

Trus.. selanjutnya kita keliling sama2 kedalam museum lihat2 koleksi benda2 yang ada di dalam Museum. Mula2 lihat bangunan gereja pertama di Jakarta, Klenteng dan Mimbar masjid, trus lihat uang2 kuno ( kata Seno uangnya Eyang karena dekil dan gak laku lagi.. ) . masuk ke ruangan yang berisi benda2 lemari, kursi, tempat tidur , barang2 antik, keramik, gerabah,yang semuanya rata-rata muulai dari abad ke-17 sampai 19. Trus juga lihat batu prasasti kerajaan Kutai, Batu Tulis, dll.. Berhubung Della dan Seno belum terlalu jelas mengenai sejarah, yah minimal gue dan suami jelasin aja dikit bahwa batu ini nilai harganya mahal, tidak ternilai karena ini warisan dari nenek moyang kita yang harus di jaga, gak boleh rusak, ini telapak kakinya nenek moyang kita, jadi kita gak boleh goyang2 atau gak boleh pukul2.. harus di jaga bener2.

Dan.. sepertinya.. anak2 sudah mulai bosen sementara itu gue dan suami masih asik hehe.. maklum kita berdua sangat suka benda2 or suasana jadul hihi.. akhirnya kita duluan ninggalin rombongan untuk bersantai di depan Istal ( dulunya.. skrng dah jadi office Museum ).. serasa jadi Noni Belanda deh.. sambil foto2 berdua Della.. ternyata lumayan juga hasil potretan Della.

Gak lama.. rombongan Pak Liliek juga selesai keliling2 dan akhirnya malah nyantai juga di halaman belakang barenga kita2.. sambil dengerin lanjutan cerita pak Liliek kita makan kue pancong hangat.. yummi.. Della ternyata doyan juga…

Trus.. gak lama antri deh ambil selendang mayang sambil lihat pemutaran film Djakarta Tempo Doeloe dan Film tentang Lagu Indonesia Raya yang di hebohin sama Roy Suryo. Kali ini pemutaran pelem di adain di dalam gedung yang ber AC.. lumyaaaannn seger.. Della dan Seno jadi tiduran di lantai kecapean..

Advertisements

2 responses to “Museum Fatahillah

  1. Lambat banget ngupload bareng pic.. maklum pake fasilitas kantor dan proxynya pake yg rakyat jelata.. jadi sudah banget.. sabar ya Jeng hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s